Lima Disiplin – Bagian 2. Disiplin Waktu
Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Alloh Swt. Semoga Alloh Yang Maha Mendengar setiap isi hati senantiasa memberikan bimbingan kepada kita sehingga kita senantiasa istiqomah di dalam ketaatan kepada-Nya. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada baginda nabi Muhammad Saw.
Aspek disiplin yang kedua adalah disiplin waktu. Waktu adalah modal kita yang teramat berharga di dalam menjalani kehidupan dunia. Waktu tidak pernah bisa kita tahan barang semenit atau sedetik pun. Jikalau kita beristirahat, maka waktu tetap bergulir. Waktu selalu berjalan ke depan, tidak pernah bisa berjalan mundur kembali meski sejengkal saja. Maka, tidak berlebihan jika ada yang mengatakan bahwa waktu adalah hal yang paling berharga di dunia.
Saudaraku, Alloh Swt. memberikan modal waktu yang sama kepada setiap orang. Banyaknya dua puluh empat jam sehari semalam. Dalam rentang waktu tersebut, ada orang yang mampu menyelesakan beberapa amanah tugas atau pekerjaan. Dalam rentang waktu tersebut pula ada orang yang mampu menghafalkan beberapa ayat atau surat di dalam Al Quran, atau mengulang kembali hafalannya sehingga lebih kuat. Dalam rentang waktu tersebut pula ada yang mampu memaksimalkan shalat fardhu di awal waktu, lengkap dengan shalat sunnah dan sedekah.
Akan tetapi, dalam rentang waktu dua puluh empat jam itu ada juga orang yang tidak banyak mendapatkan apa-apa. Waktunya berlalu begitu saja, tanpa bisa ia isi dengan amal sholeh. Lebih menyedihkan lagi, ada orang yang dalam rentang waktu itu malah berisi perbuatan sia-sia, bahkan kemaksiatan. Na’udzubillahi mindzalik. Sungguh rugi orang yang seperti ini.
Alloh Swt. berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr [103] : 1-3)
Maka saudaraku, penting sekali bagi kita untuk bisa memaksimalkan waktu yang kita miliki dengan amal ibadah. Karena sedetik pun waktu yang kita lalu pasti akan ada perhitungannya di hadapan Alloh Swt.
Buatlah program dan target untuk mengisi waktu kita. Dari harian, mingguan, bulanan, atau lebih dari itu. Jangan miliki kebiasaan telat. Jangan pula punya kebiasaan menunda-nunda pekerjaan. Bertekadlah selalu datang lebih awal. Dan berupayalah untuk segera menunaikan pekerjaan hingga tuntas, karena boleh jadi setelah pekerjaan itu, akan berdatangan pekerjaan lainnya. Jangan menunda-nunda. Gunakan kesempatan yang ada untuk melakukan yang terbaik.
Menyia-nyiakan waktu berarti tidak mensyukuri modal waktu yang telah Alloh Swt. berikan kepada kita. Selain akan menjadikan kita orang yang tidak produktif, menyia-nyiakan waktu juga akan membuat kita rugi di akhirat.
Semoga Alloh selalu melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita menjadi hamba-hamba-Nya yang selalu bermujahadah untuk disiplin mengisi waktu dengan hal-hal positif dan produktif dalam rangka beribadah kepada Alloh Swt. Hanya orang yang menggunakan waktunya sebagaimana yang Alloh sukai, yang akan mendapatkan keberuntungan di dunia dan akhirat. Wallohua’lam bishowab.[]
Jumat, 01 Mei 2015
Disiplin waktu (Aagym)
Kamis, 09 April 2015
Niaga Menjadi Ibadah
Niaga Menjadi Ibadah – AaGym
Alhamdulillah! Tak ada satupun perkataan dan bisikan kecuali pasti Alloh Swt. mendengarnya. Tak ada satupun perbuatan dan rahasia kecuali pasti Alloh Swt. menyaksikannya. Tak ada satupun peristiwa sekecil apapun kecuali pasti Alloh Swt. mengetahuinya. Subhaanalloh! Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada baginda nabi Muhammad Saw.
Saudaraku, bagi kita sebagai muslim, setiap aktifitas haruslah menjadi ibadah. Termasuk urusan jual beli. Karena waktu adalah bekal pulang kita, dan jual beli pastilah menggunakan waktu.
Sesuatu menjadi ibadah syaratnya minimal ada dua. Pertama, niatnya lurus lillaahi ta’ala. Kedua, caranya baik dan benar sesuai yang diridhoi oleh Alloh Swt dan dicontohkan oleh Rosululloh Saw.
Seseorang yang memiliki keyakinan bahwa hanya Alloh Swt. yang kuasa memberi rezeki, ini akan membuatnya berbeda dengan orang yang sekedar bisnis biasa. Bagi pecinta akhirat, bisnis adalah ibadah. Sedangkan bagi pecinta dunia, akan berpikir bahwa rezeki itu datang dari makhluk.
Bagi orang yang yakin kepada Alloh Swt., dia akan ajeg tak mudah goyah meyakini bahwa rezeki hanyalah datang dari Alloh Swt. Kita diciptakan oleh Alloh Swt. secara lengkap dengan rezekinya. Alloh Swt. berfirman, “Tidak ada satupun makhluk melata di bumi ini melainkan dicukupi rezekinya oleh Alloh.” (QS. Huud [11] : 6)
Artinya, Alloh Swt. tidaklah menyuruh kita untuk mencari rezeki, melainkan Alloh menyuruh kita untuk menjemput rezeki. Ada perbedaan antara ‘mencari’ dan ‘menjemput’. Kalau ‘mencari’ itu antara ada dan tiada, sedangkan ‘menjemput’ itu pasti ada, hanya saja apakah kita terampil untuk mendapatkannya ataukah tidak. Gambarannya seperti kita menjemput anak yang sedang berada di blok M, tapi kita malah menjemput ke blok C, tentu tidak akan bertemu.
Alloh Swt. telah menebarkan rezeki-Nya di alam raya ini, bahkan tidak jauh dari tempat kita berada. Hanya saja apakah cara kita mendapatkannya baik dan benar sesuai dengan tuntunan-Nya, maka itu akan mempengaruhi keberkahan rezeki kita.
Perniagaan atau bisnis kita adalah ladang amal sholeh bagi kita, cara kita menjemput rezeki yang telah Alloh janjikan bagi kita. Maka, menjemputnya mestilah dengan langkah-langkah yang ada dalam ridho Alloh Swt. Sehingga perniagaan kita tidak hanya mendatangkan kemanfaatan di dunia semata, melainkan juga menjadi investasi jangka panjang bagi kita di akhirat kelak. Mari, menjadikan perniagaan kita sebagai amal sholeh kita.[]
Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )
